IBX5980432E7F390 Umum
Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts
Jenis Jenis Batik

Jenis Jenis Batik

Ulas Batik | Batik adalah sebuah hasil proses dari seni pembuatan kain bermotif yang menggunakan malam atau lilin panas. Jadi yang dimaksud dengan produk seni batik adalah :
1. Batik Tulis
2. Batik Cap
3. Kombinasi Batik Tulis dan Batik Cap

Ciri khas hasil Batik Tulis dan Batik Cap adalah:
- Baunya khas sekali
- Warnanya tidak mudah luntur
- Warnanya cenderung gelap dan tidak terlalu terang.

Batik Lukis, merupakan perkembangan dari seni membatik. Tekniknya adalah menggunakan kuas. Hasil teknik ini biasanya adalah dalam bentuk seni atau lukisan kain batik panjang yang digunakan wanita yang dililitkan pada pinggang. Banyak yang menyebutnya sebagai seni batik kontemporer.

Hasil sablon dan cetak (printing) bukan merupakan sebuah karya seni Batik, melainkan produk tekstil atau garment yang menyerupai batik. Bisa dibilang produk tekstil motif batik, bukan Batik bermotif.

1. Batik Tulis
    Batik Tulis adalah batik sesungguhnya.

Batik Tulis dibuat dengan menggambar motif pada kain menggunakan "Canting". Dalam seni membatik, canting adalah alat khusus untuk melapisi gambar pada kain yang mengandung cairan lilin atau "malam" untuk menutupi bagian - bagian tertentu sesuai dengan motif yang dibuat. Batik Tulis memiliki keunggulan nilai artistik dibanding jenis batik lainnya.

Hasil dari teknik membatik Tulis ini adalah lebih detil motifnya dan cenderung tidak sama karena digambar dengan tangan.

2. Seni Batik Cap / Stamp
  Batik dibuat dengan menggunakan teknik stempel (cap). Cap tersebut biasanya terbuat dari tembaga yang didesain dengan motif tertentu.
Hasil dari teknik Cap ini biasanya sedikit lebih rapih motifnya dibandingkan dengan Batik Tulis.

3. Kombinasi Batik Cap dan Tulis
    Merupakan gabungan antara batik cap dan tulis. Prosesnya adalah dilakukan Cap terlebih dahulu, lalu ditambah teknik gambar manual dengan tangan. Penambahan dengan manual gambar, biasanya hanya menambahkan sedikit variasi motif dan warna motif.


Batik Lukis
Batik dibuat dengan teknik melukis secara langsung pada kain, serta karya seni menggunakan kuas. Alat yang digunakan dan motifnya dibuat lebih leluasa.
Batik Lukis, merupakan perkembangan seni batik. Tekniknya adalah menggunakan kuas.

Hasil teknik ini biasanya adalah dalam bentuk seni atau lukisan kain batik panjang yang digunakan para wanita dengan melilitkan pada pinggang. Ciri khas dari lukisan kain batik itulah yang hasilnya, antara lain memiliki warna cerah dan eye catching.
Produk Batik Lukis Bali banyak dijual dalam bentuk kain pantai.

Hasil Lukisan Batik juga digunakan untuk produk lain, contohnya seperti tas wanita

Sablon
Produk ini dibuat dengan menggunakan klise (hand printing). Motif yang telah dibuat kemudian dibuat klise dan dicetak.

Printing / Cetak mesin

Produk ini dibuat dengan teknik cetak menggunakan mesin. Teknik pabrikasi yang menghasilkan kain mirip batik dan bukan merupakan hasil pembatikan

Membedakan kain batik tulis / cap dengan hasil Cetakan / Printing / Sablon
  • Ada dua sisi kain batik yang ada di depan dan bagian dalam. Batik Tulis dan Batik Cap, pada bagian depan dan dalam warnanya sama, hampir tidak ada perbedaan warna kecerahan karena pada proses pewarnaan dilakukan pada dua sisi.
  • Berbeda dengan hasil cetak atau sablon, Anda akan dengan mudah dapat membedakannya dengan membalik kain yang pastinya pada sisi bagian dalam tidak sama dengan bagian luar.  Hanya bagian permukaan luar saja yang nampak tegas motif dan warnanya. Hal ini terjadi karena proses cetak atau sablon hanya pada pada permukaan luar saja.
  • Selain itu, kain batik cuci pertama, warna kain akan terlihat pudar pudar.
  • Apabila kita membeli batik masih berupa kain, maka Batik Tulis atau Batik Cap hanya berukuran 2 meter panjang dan 1 meter lebar nya. Sedangkan kain hasil Cetak dan Sablon yang menyerupai batik dapat dipastikan tersedia lebih dari 2 meter.
Jenis batik berdasarkan penggunaan bahan pewarnanya:
  1. Batik dengan bahan pewarna alami
  2. Batik dengan bahan pewarna sintetis 
 Semoga bermanfaat.
Sejarah Batik Indonesia

Sejarah Batik Indonesia

Ulas Batik | Hampir semua wilayah di Indonesia, masing-masing memiliki apa yang dikenal dengan "batik" tapi dengan nama yang berbeda. Kata "Batik", mengacu pada seni menulis atau menggambar pada kain. Kata “Batik" berasal dari bahasa Jawa yang merupakan penggabungan dua suku kata "AMBA" yang berarti menulis dan "TITIK" yang berarti intinya. Jadi Batik adalah seni menggambar pada kain dengan cara menyambungkan titik titik tersebut.


Batik di Indonesia mulai dikenal sejak abad ketujuhbelas, ditulis dan dicat pada daun lontar. Di masa itu, motif atau coraknya kebanyakan masih dalam bentuk hewan atau tumbuhan. Tapi seiring berkembangya zaman, gaya menggambar batik sudah merambah pada motif seperti abstrak dalam bentuk awan (megamendung – Cirebon), relief candi, wayang dan lainnya. Corak atau notif Batik semakin beragam  dan bervariasi sesuai dengan filosofi serta budaya masing-masing daerah di Indonesia.

Awalnya, Batik bukanlah busana seperti sekarang tapi hanya berbentuk selembar kain dan orang Jawa menyebutnya "Jarik". 2.500 tahun SM, nenek moyang Indonesia datang menggunakan kain kulit kayu dengan pola angin (artefak ini sekarang berada di Museum Gajah atau Museum Nasional Indonesia, Jakarta). Inilah yang disebut asal-usul batik nusantara. Patung peninggalan abad ke-7 (ada yang menyebutkan abad ke 9) memakai kain batik.
Pada abad ke-16, Sir Stamford Raffless dalam bukunya "History of Java" menyebutkan batik yang ada di Tuban, Jawa Timur. Lukisan batik batik yang dihasilkan semuanya sampai awal abad ke-20 dan batik cap atau stempel baru diketahui setelah Perang Dunia Pertama berakhir atau sekitar tahun 1920-an.

Sejarah Batik di Indonesia juga sangat erat kaitannya dengan kerajaan Majapahit dan penyebaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan, perkembangan batik banyak dilakukan di masa kerajaan Mataram, yang cakupan wilayahnya adalah Solo (Surakarta) dan Yogyakarta.
Kesenian batik adalah seni menggambar pada kain yang menjadi salah satu budaya keluarga raja-raja Jawa. Batik pada awalnya dikerjakan oleh abdi dalam yang juga pembuat batik yang "dikurung" di dalam lingkungan istana (disebut lingkungan "Kraton") dan hasil batik digunakan untuk pakaian raja dan keluarga beserta pengikutnya.

Pada  tahun 1769, 1784 dan 1790, Keraton Surakarta Sri Sunan (era Sri Susuhunan Paku Buwono III) mengeluarkan sebuah dekrit yang melarang penggunaan batik yang mengandung motif sawat (sayap elang), golok, udan liris, cemukiran untuk orang-orang yang bukan keluarga keraton. Keraton Yogyakarta (Yogyakarta) juga melakukan hal yang sama.

Pada abad ke-18, ditemukan lilin atau "malam" dari sarang lebah. Pada tahun 1850, ditemukan alat batik berupa cetakan yang terbuat dari tembaga yang disebut "cap", batik dengan teknik ini kemudian disebut Batik Cap. Teknik yang dihasilkan menggunakan cap tersebut muncul karena permintaan batik yang kian meningkat tentunya di luar Keraton. Pada tahun inilah, bisnis batik mulai berkembang di Pekalongan. Oleh karena itu banyak pengikut raja yang tinggal di luar istana, kemudian seni batik dibawa oleh para abdi dalem istana dan dibawa ke tempat tinggalnya masing-masing. Setelah sekian lama, akhirnya seni batik ditiru oleh orang-orang terdekat dengan lingkungan istana dan kemudian berkembang menjadi karya seni yang banyak dilakukan oleh kaum perempuan di rumah rumah untuk mengisi waktu luangnya.

Dalam kurun waktu 1942-1945 (masa penjajahan Jepang di Indonesia), seni batik banyak dipengaruhi oleh budaya Jepang dan yang paling populer saat itu yaitu Batik Djawa Hokokai.

Pertengahan 1950, Presiden Soekarno memulai proyek Batik Indonesia. Motif batik ini berubah disesuaikan dengan semangat nasionalisme. Pada tahun yang sama justru penjualan batik tulis dan cap justru menurun karena muncul kain menyerupai batik yang dibuat dengan teknik sablon dan mesin printing.

Pada tahun 1964, atas perintah langsung Presiden Soekarno, Indonesia memamerkan Batik di gerai sewa terbesar di New York World Fair, Amerika Serikat.
Pada tahun 1972, oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin untuk pertama kalinya, batik menjadi pakaian resmi pegawai negeri sipil sebagai upaya mengembalikan kejayaan batik di Indonesia.

Penentuan hari Batik Nasional berasal dari keputusan UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 yang mengakui Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya untuk Kemanusiaan dan Tak Berwujud.

Pada akhirnya, pakaian batik yang dulunya hanya digunakan oleh kalangan keluarga kerajaan dan abdi dalemnya, kini menjadi pakaian rakyat yang populer, baik wanita maupun pria, tua dan muda. Dan pakaian batik tidak hanya digunakan sekedar menghadiri acara resmi seperti pesta pernikahan.

Dan pada tanggal 2 Oktober 2009, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkannya sebagai Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 Oktober 

Semoga Batik Indonesia kembali jaya, sehingga menjadi kontributor bagi perekonomian Indonesia yang jauh lebih baik.
Apa itu Jumputan?

Apa itu Jumputan?

Ulas Batik Indonesia | Apa itu Jumputan? Untuk mengetahui apa itu Jumputan, baca ulasan dibawah ini terlebih dahulu.
Contoh motif Jumputan
Contoh motif Jumputan
Sebagian orang ada yang berpendapat bahwa Jumputan itu termasuk katagori hasil kerajinan Batik, dengan alasan bahwa kain Jumputan mempunyai motif yang sama dengan motif yang ada di Batik.
Dan sebagian orang lagi berpendapat bahwa Jumputan bukan kategori Batik, dengan alasan bahwa dalam pembuatan Jumputan tidak ada proses penggambaran pola motif dan pemberian lapisan "malam" sebagaiman proses batik tulis dan cap pada umumnya.

Alasan kedua pendapat di atas benar bahwa kain Jumputan pola atau motifnya memang hampir sama dengan motif seperti yang ada di Batik dan benar bahwa proses pembuatannya memang tidak seperti batik tulis atau cap dimana motif pada batik tulis diberi sketa dengan pensil terlebih dahulu dan kemudian dilapisi lilin dengan menggunakan canting, atau pemberian motif dilakukan dengan cap pada batik Cap.

Motif motif pada Jumputan, lebih banyak cenderung bernuansa "abstrak", walaupun banyak juga yang motifnya tidak terlalu abstrak. Untuk warna, Jumputan bisa menggunakan warna gelap maupun warna warna cerah.
Jumputan dengan motif abstrak
Jumputan dengan motif abstrak

"Jumputan" berasal dari kosa kata bahasa Jawa yaitu "menjumput" yang mempunyai arti memungut. Karena melihat prosesnya. kemudian ada yang mengartikan Jumputan dengan kata "Ikat dan Celup". Menurut sejarah yang ada, teknik Jumputan atau celup ikat ini berasal dari negeri Cina yang konon dibawa oleh para pedagang India dan kemudian diadopsi serta menyebar di Indonesia. Entah daerah mana yang terlebih dahulu mengenalkan Batik Jumputan ini, namun kemungkinan besar Batik Jumputan awal mula berasal dari daerah yang berada di pesisir pantai mengingat interaksi para pedagang dahulu masuk melalui pelabuhan laut di daerah-daerah pesisir pantai.

Berarti Batik Jumputan ini bukan berasal dari Keraton sebagaimana batik-batik seperti dari Yogya, Solo, Cirebon dan Pekalongan, namun berasal dari pengaruh budaya luar dan tercipta dari kreatifitas para pengrajin batik itu sendiri.                               
Proses pembuatan Jumputan hampir seluruhnya sama dengan proses Batik Tulis atau Batik Cap, yang membedakan adalah pada saat penciptaan motif dan pemberian lilin. Pada Jumputan, motifnya dibuat tanpa menggunakan skets atau gambar, tetapi langsung dilakukan pada kain dengan menggunakan teknik ikat celup. Caranya antara lain, kain dijumput kemudian diberi biji-bijian sesuai dengan motif yang diinginkan lalu diikat dengan tali atau ada juga yang menggunakan cara dijahit. Fungsi pengikatan tali atau dengan jahitan adalah untuk membentuk motif sekaligus menutup bagian yang tidak terkena warna. Setelah itu, dilakukan pencelupan ke dalam bahan pewarna. Sederhana bukan?

Walaupun teknik yang digunakan cukup sederhana, namun hasil dari Batik Jumputan juga tidak kalah menarik dengan batik lainnya, apalagi bila motif yang dibuat lebih inovatif dan beragam.
Tidak semua daerah penghasil batik memproduksi Batik Jumputan ini, hanya beberapa daerah yang dikenal memproduksinya yaitu Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Palembang dan Bali. 
Sentra Sentra Batik di Indonesia

Sentra Sentra Batik di Indonesia

Ulas Batik Indonesia | Sentra Produksi dan Penjualan Batik di Indonesia. Untuk penjualan batik, sebenarnya hampir di setiap pusat perbelanjaan seperti Mall atau Plaza mapun Trade Center dapat dipastikan terdapat toko penjual batik atau butik-butik yang khusus yang menjual batik namun tempatnya tersebar tidak di satu lokasi. Sentra Penjualan yang dimaksud di sini adalah yang sebagian besar dijual atau didominasi di satu tempat perbelanjaan adalah bahan batik dan pakaian dan batik.


Umumnya, bila terdapat sentra produksi Batik maka terdapat pula tempat penjualannya. Lokasinya bisa dalam satu areal yang sama atau tidak jauh dari sentra produksi. Lain halnya dengan Sentra Penjualan, belum tentu di dekatnya atau sekitarnya terdapat sentra produksi. Contoh Sentra penjualan Batik di Jakarta, di sana tidak terdapat sentra produksinya.

Jakarta
+ Sentra Penjualan : 
  - Kawasan Tanah Abang (Blok A dan Thamrin City)
+ Sentra Produksi: 
   - Kampung Batik khas Betawi Terogong  (baca juga : Batik khas Betawi), 
   - Kampung Batik Palbatu

Kuningan (Jawa Barat)
+ Sentra Produksi : Desa Cigugur

Ciamis (Jawa Barat)
+ Sentra produksi:
   - Desa Ciwahangan
   - Desa Imbanagara.

Cirebon (jawa Barat)
Sentra Produksi dan Penjualan : 
+ Jalan Trusmi

Pekalongan (Jawa Tengah)
+ Sentra Penjualan : 
  - International Batik Center (IBC)
  - Pasar Grosir Setono

+ Sentra Produksi : 
  - Kampung Batik Pesindon
  - Kampung Batik Kauman

Solo (Jawa Tengah)
+ Sentra Penjualan : Pasar Klewer
+ Sentra Produksi : 
  - Kampung Batik Kauman
  - Kampung Batik Laweyan.

Sragen (Jawa Tengah)
+ Sentra produksi: Girli Kliwonan

Yogyakarta 
+ Sentra Penjualan : 
  - Jalan Malioboro
  - Pasar Bringhardjo
+ Sentra Produksi :
  - Sekitar Keraton Jogja
  - Kp. Batik Tulis Giriloyo
  - Kabupaten Kulonprogo

Semarang (Jawa Tengah)
+ Sentra Penjualan : 
   - Pasar Johar
   - Kampung Batik Semarang
+ Sentra Produksi : 
   - Kampung Batik Semarang
   - Kampung Alam - Gunung Pati Semarang

Wonogiri (Jawa Tengah)
+ Sentra produksi & penjualan
   - Kecamatan Tirtomoyo

Madura (Jawa Timur)
+ Sentra Produksi
   - Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan


Tentang Batik di Indonesia

Tentang Batik di Indonesia

Ulas Batik Indonesia | Hampir sebagian besar di Indonesia, masing masing daerah mempunyai apa yang disebut dengan "Batik". Ada yang sejarah daerahnya memang sudah terdapat kerajinan batik, lalu ada juga yang kemudian mendorong daerahnya membuat kerajinan batik dengan mengangkat tema kearifan lokal guna meningkatkan perekonomian daerah.
Kata Batik, berarti merujuk pada seni menulis atau menggambar di atas sehelai kain. Batik berbeda dengan apa yang disebut dengan Kain Kebaya, tetapi pasangan yang paling serasi dan tepat dengan Kebaya adalah kain Batik.

Batik, secara produksi atau yang dihasilkan ada 2 jenis yaitu :
  1. Masih berupa kain atau dalam bahasa jawa disebut "Jarik" dan ada juga yang disebut dengan "Selendang"
  2. Sudah dibentuk atau dijahit menjadi pakaian seperti Baju atau gaun dll.
Untuk batik yang masih berupa kain atau jarik, penggunaannya biasanya adalah sebagai bawahan dengan atasan seperti kebaya. 
Selendang, pada masyarakat jawa umumnya selendang digunakan sebagai pengikat sesuatu, seperti ketika para wanita sedang menggendong anaknya, seringkali menggunakan selendang.
Kemudian, apabila para pembaca pernah melihat Penjual Jamu yang masih digendong, nah mereka ini menggunakan namanya Selendang.

Sedangkan batik yang sudah dibentuk atau dijahit menjadi baju atau pakaian banyak variasinya. Misalnya baju batik pasangan (couple) atau keluarga, biasa disebut dengan Sarimbit, dimana batik sarimbit mempunyai motif yang sama.

Batik adalah sebuah Proses.
Batik berbeda dengan apa yang disebut "Kain Tenun", Kain Tenun meski terkadang memiliki motif yang mirip dengan kain batik namun berbeda.
Perbedaan antara Batik (Batik) dengan kain tenun adalah pada prosesnya, dimana kain tenun tidak melalui proses yang disebut "menggambar" atau memberi "cap". Motif yang tercipta pada kain tenun adalah melalui proses penenunan itu sendiri.

Batik yang paling banyak dikenal adalah Batik Jawa seperti:
- Batik Solo (Jawa Tengah)
- Batik Yogyakarta (Yogyakarta)
- Batik Pekalongan (Jawa Tengah)
- Batik Cirebon (Jawa Barat)

Batik lain yang berasal dari pulau Jawa yaitu:
- Batik Semarang (Jawa Tengah)
- Batik Tasik / Tasikmalaya  (Jawa Barat)
- Batik Garut (Jawa Barat)
- Batik Kuningan (Jawa Barat)
- Batik Bogor (Jawa Barat)
- Batik Betawi /Jakarta
- Batik Bayat / Klaten (Jawa Tengah)
- Batik Banyumas (Jawa Tengah)
- Batik Jombang (Jawa Tmur)
- Batik Lasem (Jawa Timur)
- Batik Tuban (Jawa Timur)
- Batik Tulungagung (Jawa Timur)
- Batik Kediri (Jawa Timur)
- Batik Banyuwangi (Jawa Timur)
- Batik Kudus (Jawa Tengah)
- Batik Jepara (Jawa Tengah)
- Batik Pacitan (Jawa Timur)
- Dan masih banyak daerah lain yang kain batiknya mungkin belum dikenal luas 

Untuk di luar pulau Jawa, beberapa daerah yang sudah dikenal batik nya yaitu:
- Batik Bali
- Batik Madura
- Batik Minahasa
- Batik Aceh
- Batik Jambi
- Batik Bengkulu
- Batik Riau
- Batik Papua

Sesungguhnya Batik Indonesia sangatlah kaya akan keberagaman hias serta motifnya. Bayangkan jika dari satu daerah saja mempunyai beberapa motif, berapa banyak ragam hias motif yang ada di seluruh Indonesia ini.

Batik Indonesia juga sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia, dan jangan sampai diklaim negara lain seperti Malaysia sebagai hasil budaya mereka.
Museum Batik di Indonesia

Museum Batik di Indonesia

Ulas Batik Indonesia | Di Indonesia terdapat beberapa museum khusus Batik dan museum tekstil yang juga mengkoleksi batik. Sebagian besar dari museum-museum tersebut berada di kota kota yang terkenal dengan Batiknya seperti Kota Yogyakarta, Kota Solo, dan Kota Pekalongan 

1. Museum Batik Indonesia
 Museum ini berlokasi di dalam komplek Taman Mini Indonesia, Jakarta Timur.

2. Museum Batik Yogyakarta
    Museum ini terletak di Jalan Dr Sutomo 13 A RT 049 RW 12 Bausasran, Danurejan, Yogyakarta

Pada awalnya,  bangunan museum ini merupakan museum milik keluarga yang didirikan pada sekitar tahun 1973 oleh sebuah keluarga yang memang sangat mencintai Batik yaitu keluarga Bapak Hadi Nugroho dan Ibu R. Ng.Jumima Sukaningsih, dan kemudian diserahkan kepada pemerintah daerah Yogyakarta pada tahun 1979. Sejak saat itu, Museum Batik Yogyakarta resmi terbuka untuk umum.
3. Museum Batik Pekalongan
    Museum Batik Pekalongan terletak di Jl. Jatayu No. 3 Kota Pekalongan, Jawa Tengah

Museum Batik Pekalongan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia ke-6 Bapak Susilo Bambag Yudhoyono pada tanggal 12 Juli 2006. Luas bangunan museum ini seluas 2500 meter persegi yang berada di atas tanah seluas 3675 meter persegi.
Sebelumnya, bangunan museum batik Pekalongan merupakan bangunan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1906 dan berfungsi sebagai Kantor Administrasi Keuangan dari pabrik pabrik gula yang berada di sekitar Karisidenan Pekalongan. Selanjutnya, bangunan tersebut mengalami beberapa kali  perubahan fungsi, seperti menjadi ruangan komersial yang disewakan, Kantor Pemerintahan dan lain lain.

4. Museum Batik Danar Hadi - Solo

    Museum ini terletak di Jalan Brigadier General Slamet Riyadi No. 261, Sriwedari, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah.

Museum Batik Danar Hadi berdiri atas inisiatif dari Bapak Haji Santosa Doellah yang merupakan pemilik usaha Batik dengan label Danar Hadi (berdiri sejak tahun 1967). Didorong rasa cinta terhadap Batik, ia mengumpulkan dan mengkoleksi berbagai macam dan jenis Batik baik dari Indonesia maupun dari negara negara lain. Sampai saat ini, koleksi batik yang dimiliki sudah mencapai jumlah ribuan dan ditampilkan di Museum Batik Danar Hadi.
Awalnya museum ini bernama Galeri Batik Kuno Danar Hadi, namun sejak Museum ini diresmikan oleh Megawati pada tanggal 20 Oktober 2000, berganti nama menjadi "Museum Batik Danar Hadi".

Koleksi Batik Kuno Museum Batik Danar Hadi merupakan koleksi pribadi pemilik Danar Hadi berjumlah kurang lebih 10.000 buah dengan usia batik ratarata di atas 30 tahun dan 1500 diantaranya merupakan koleksi batik yang didatangkan dari kurator museum Batik Belanda, Troupen yang dibuat antara tahun 1840 sampai tahun 1910.

5. Museum Tekstil Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Aipda KS Tubun No. 2-4, Tanah Abang, Petamburan, RT.6/RW.1, Kota Bambu Sel., Palmerah, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Museum Tekstil di Jakarta yang dibangun pada tahun 1976 ini memang tidak dikhususkan sebagai museum Batik saja, tetapi koleksi Batik yang tersimpan di Museum ini tidaklah sedikit. Tercatat tidak kurang dari 2000 koleksi Batik dari berbagai daerah di Indonesia.

6. Museum Batik Tiga Negeri, Lasem.



Hari Batik Nasional

Hari Batik Nasional

Ulas Batik Indonesia | Pemerintah Indonesia telah menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Penetapan tanggal 2 Oktober tersebut sebenarnya didasari atas Pengakuan Dunia terhadap Batik Indonesia melaui salah satu Badan Dunia di bawan United Nation (UN) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bernama UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009,
UNESCO mengakui bahwa Batik Indonesia sebagai Cultural Heritage of Humanty's Oral and Intangible (warisan Kemanusiaan untuk budaya Lisan dan non-bendawi).

Pada setiap tanggal 2 Oktober itulah, setiap instansi, lembaga pemerintahan, perusahaan negara bahkan lembaga swasta serta perusahaan swasta menginstruksikan kepada seluruh jajarannya untuk menggunakan pakaian batik.

Selain itu, penetapan Hari Batik Nasional bertujuan untuk mengingatkan kita, Bangsa Indonesia bahwa Batik yang merupakan salah satu kekayaan hasil seni dan budaya bangsa telah diakui dunia untuk itu kita harus ikut aktf melestarikan dan mencintai Batik. Batik adalah Identitas Indonesia. Dan dari sisi ekonomi, pemerintah Indonesia juga ingin terus memajukan industri Batik Nasional. Dari sinilah, banyak instansi atau pun perusahaan baik milik pemerintah maupun swasta yang mendukung hal tersebut dengan menetapkan pakaian kerja pada hari tertentu menggunakan pakaian batik.

Ada beberapa hal yang menurut admin cukup miris, perhatikan pada saat kunjungan kita ke kampung-kampung batik. Apa yang kita lakukan di kampung batik? lebih banyak yang hanya sekedar membeli. Lho bukannya bagus, hasil produksi batik para pengrajin terbeli? ya secara ekonomi hal itu bagus, tapi secara edukasi? Seberapa banyak yang sekedar mau bertanya bagaimana proses batik sesungguhnya. Tidak banyak dari kita, terlebih para generasi muda yang tertarik dengan dunia batik. Padahal kepedulian generasi muda kita kepada batik merupakan investasi jangka panjang untuk kelangsungan dan kelestarian Batik, yang merupakan warisan Indonesia untuk Dunia.

Justru apa bila ada pengunjung orang asing alias bule, mereka lebih antusias memperhatikan bagaimana proses batik tercipta.
Jangan sampai beberapa tahun ke depan, para pengrajin batik berasal dari negara lain. Terbukti, negara tetangga selalu mengklaim bahwa batik berasal dari negaranya.

Jangan euphoria batik hanya sebatas pada setiap tanggal 2 Oktober saja,
Ayo cintai batik kita dengan mempelajari batik itu sendiri, dan juga membeli batik dari pengrajin, hidupkan kembali perbatikan nasional. Stop membeli kain, baju bermotif batik, tapi belilah batik.

Selamat Hari Batik Nasional


Batik, Bukan Sekedar Seni dan Budaya

Batik, Bukan Sekedar Seni dan Budaya

Ulas Batik Indonesia | Batik, nyatanya tidak hanya sebagai sebuah karya seni dan budaya. Dalam prosesnya dan dalam motifnya, terkandung unsur unsur seperti filosofi, rasa, sosial, gotong royong, moral bahkan hal hal bernuansa religi.

Pola atau motif batik tertentu diyakini memiliki sebuah kekuatan supernatural dan hanya bisa dipakai oleh kalangan tertentu. Misalnya, motif parang yang melambangkan kekuasaan dan kekuatan yang hanya boleh dipakai oleh penguasa dan kalangan ksatria. Batik jenis ini harus dibuat dengan ketenangan dan kesabaran. Kesalahan dalam proses batik diyakini bisa menghilangkan kekuatan magis pada batik.

Motif atau pola batik juga merupakan simbol bermakna yang menunjukkan bagaimana cara masyarakat berpikir dalam pembuatannya. Inilah beberapa motif dan filosofinya. Dalam tradisi masyarakat Jawa, batik selalu hadir dalam berbagai adat upacara, karena motif yang terukir dalam batik mengandung filosofi sebagai harapan dan do'a do'a.

Motif Batik Kawung
Motif ini merupakan representasi dari bunga teratai yang merekah. Motif ini melambangkan kemurnian dan umur panjang.

Motif Batik Parang
Parang berarti lereng atau bukit karang, motif ini melambangkan kekuasaan dan kekuatan. Oleh karena itu, dahulu kala batik dengan motif Parang hanya dikenakan oleh penguasa dan para ksatria.

Motif Batik Sawat
Motif ini bergambar sayap (terjemahan kata Sawat) yang hanya dipakai oleh para raja dan pangeran. Motifnya dibuat bukan dengan pertimbangan nilai estetika, tapi berdasarkan harapan yang digariskan dalam bentuk symbol.

Batik juga memiliki fungsi sebagai ritual dan religius. Khususnya di daerah tertentu, dimana batik merupakan sarana ritual keagamaan seperti di Tenganan, Bali. Desa ini terletak di Bali Timur dekat Gowa Lawa, yang berpenduduk sekitar 500 orang lebih. Mereka disebut sebagai Bali Aga (penduduk asli Bali yang merupakan leluhur orang Bali) yang memeluk agama / kepercayaan asli Bali yaitu Surya, dan berbeda dengan Hindu Bali. 

Batik juga berfungsi sebagai "kekerabatan", yang berarti pada saat keluarga memiliki perayaan , batik akan digunakan oleh keluarga dan teman-teman yang datang dalam acara perayaan ini. Saat melakukan pernikahan, kerabat kali (relatif) umumnya menggunakan batik sebagai busana resmi yang digunakan pada acara tersebut. Dengan demikian batik berfungsi sebagai kekerabatan.

Sekarang ini, Batik juga terkait erat dengan fungsi pendidikan. Batik menjadi salah satu mata pelajaran seni budaya yang diajarkan di berbagai sekolah, bahkan menjadi pendidikan khusus atau sebuah jurusan di Institut Tekstil.

Kini, batik juga berfungsi sebagai salah satu sarana peningkatan ekonomi suatu daerah. Misalnya, suatu daerah yang awalnya tidak memiliki perbatikan, daerahnya kemudian membuat batik dengan motif kearifan lokal. Contoh, seperti Jakarta, Depok, yang memang tak punya sejarah batik.