IBX5980432E7F390 January 2026
Jenis Jenis Batik

Jenis Jenis Batik

Ulas Batik | Batik adalah sebuah hasil proses dari seni pembuatan kain bermotif yang menggunakan malam atau lilin panas. Jadi yang dimaksud dengan produk seni batik adalah :
1. Batik Tulis
2. Batik Cap
3. Kombinasi Batik Tulis dan Batik Cap

Ciri khas hasil Batik Tulis dan Batik Cap adalah:
- Baunya khas sekali
- Warnanya tidak mudah luntur
- Warnanya cenderung gelap dan tidak terlalu terang.

Batik Lukis, merupakan perkembangan dari seni membatik. Tekniknya adalah menggunakan kuas. Hasil teknik ini biasanya adalah dalam bentuk seni atau lukisan kain batik panjang yang digunakan wanita yang dililitkan pada pinggang. Banyak yang menyebutnya sebagai seni batik kontemporer.

Hasil sablon dan cetak (printing) bukan merupakan sebuah karya seni Batik, melainkan produk tekstil atau garment yang menyerupai batik. Bisa dibilang produk tekstil motif batik, bukan Batik bermotif.

1. Batik Tulis
    Batik Tulis adalah batik sesungguhnya.

Batik Tulis dibuat dengan menggambar motif pada kain menggunakan "Canting". Dalam seni membatik, canting adalah alat khusus untuk melapisi gambar pada kain yang mengandung cairan lilin atau "malam" untuk menutupi bagian - bagian tertentu sesuai dengan motif yang dibuat. Batik Tulis memiliki keunggulan nilai artistik dibanding jenis batik lainnya.

Hasil dari teknik membatik Tulis ini adalah lebih detil motifnya dan cenderung tidak sama karena digambar dengan tangan.

2. Seni Batik Cap / Stamp
  Batik dibuat dengan menggunakan teknik stempel (cap). Cap tersebut biasanya terbuat dari tembaga yang didesain dengan motif tertentu.
Hasil dari teknik Cap ini biasanya sedikit lebih rapih motifnya dibandingkan dengan Batik Tulis.

3. Kombinasi Batik Cap dan Tulis
    Merupakan gabungan antara batik cap dan tulis. Prosesnya adalah dilakukan Cap terlebih dahulu, lalu ditambah teknik gambar manual dengan tangan. Penambahan dengan manual gambar, biasanya hanya menambahkan sedikit variasi motif dan warna motif.


Batik Lukis
Batik dibuat dengan teknik melukis secara langsung pada kain, serta karya seni menggunakan kuas. Alat yang digunakan dan motifnya dibuat lebih leluasa.
Batik Lukis, merupakan perkembangan seni batik. Tekniknya adalah menggunakan kuas.

Hasil teknik ini biasanya adalah dalam bentuk seni atau lukisan kain batik panjang yang digunakan para wanita dengan melilitkan pada pinggang. Ciri khas dari lukisan kain batik itulah yang hasilnya, antara lain memiliki warna cerah dan eye catching.
Produk Batik Lukis Bali banyak dijual dalam bentuk kain pantai.

Hasil Lukisan Batik juga digunakan untuk produk lain, contohnya seperti tas wanita

Sablon
Produk ini dibuat dengan menggunakan klise (hand printing). Motif yang telah dibuat kemudian dibuat klise dan dicetak.

Printing / Cetak mesin

Produk ini dibuat dengan teknik cetak menggunakan mesin. Teknik pabrikasi yang menghasilkan kain mirip batik dan bukan merupakan hasil pembatikan

Membedakan kain batik tulis / cap dengan hasil Cetakan / Printing / Sablon
  • Ada dua sisi kain batik yang ada di depan dan bagian dalam. Batik Tulis dan Batik Cap, pada bagian depan dan dalam warnanya sama, hampir tidak ada perbedaan warna kecerahan karena pada proses pewarnaan dilakukan pada dua sisi.
  • Berbeda dengan hasil cetak atau sablon, Anda akan dengan mudah dapat membedakannya dengan membalik kain yang pastinya pada sisi bagian dalam tidak sama dengan bagian luar.  Hanya bagian permukaan luar saja yang nampak tegas motif dan warnanya. Hal ini terjadi karena proses cetak atau sablon hanya pada pada permukaan luar saja.
  • Selain itu, kain batik cuci pertama, warna kain akan terlihat pudar pudar.
  • Apabila kita membeli batik masih berupa kain, maka Batik Tulis atau Batik Cap hanya berukuran 2 meter panjang dan 1 meter lebar nya. Sedangkan kain hasil Cetak dan Sablon yang menyerupai batik dapat dipastikan tersedia lebih dari 2 meter.
Jenis batik berdasarkan penggunaan bahan pewarnanya:
  1. Batik dengan bahan pewarna alami
  2. Batik dengan bahan pewarna sintetis 
 Semoga bermanfaat.
Sejarah Batik Indonesia

Sejarah Batik Indonesia

Ulas Batik | Hampir semua wilayah di Indonesia, masing-masing memiliki apa yang dikenal dengan "batik" tapi dengan nama yang berbeda. Kata "Batik", mengacu pada seni menulis atau menggambar pada kain. Kata “Batik" berasal dari bahasa Jawa yang merupakan penggabungan dua suku kata "AMBA" yang berarti menulis dan "TITIK" yang berarti intinya. Jadi Batik adalah seni menggambar pada kain dengan cara menyambungkan titik titik tersebut.


Batik di Indonesia mulai dikenal sejak abad ketujuhbelas, ditulis dan dicat pada daun lontar. Di masa itu, motif atau coraknya kebanyakan masih dalam bentuk hewan atau tumbuhan. Tapi seiring berkembangya zaman, gaya menggambar batik sudah merambah pada motif seperti abstrak dalam bentuk awan (megamendung – Cirebon), relief candi, wayang dan lainnya. Corak atau notif Batik semakin beragam  dan bervariasi sesuai dengan filosofi serta budaya masing-masing daerah di Indonesia.

Awalnya, Batik bukanlah busana seperti sekarang tapi hanya berbentuk selembar kain dan orang Jawa menyebutnya "Jarik". 2.500 tahun SM, nenek moyang Indonesia datang menggunakan kain kulit kayu dengan pola angin (artefak ini sekarang berada di Museum Gajah atau Museum Nasional Indonesia, Jakarta). Inilah yang disebut asal-usul batik nusantara. Patung peninggalan abad ke-7 (ada yang menyebutkan abad ke 9) memakai kain batik.
Pada abad ke-16, Sir Stamford Raffless dalam bukunya "History of Java" menyebutkan batik yang ada di Tuban, Jawa Timur. Lukisan batik batik yang dihasilkan semuanya sampai awal abad ke-20 dan batik cap atau stempel baru diketahui setelah Perang Dunia Pertama berakhir atau sekitar tahun 1920-an.

Sejarah Batik di Indonesia juga sangat erat kaitannya dengan kerajaan Majapahit dan penyebaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan, perkembangan batik banyak dilakukan di masa kerajaan Mataram, yang cakupan wilayahnya adalah Solo (Surakarta) dan Yogyakarta.
Kesenian batik adalah seni menggambar pada kain yang menjadi salah satu budaya keluarga raja-raja Jawa. Batik pada awalnya dikerjakan oleh abdi dalam yang juga pembuat batik yang "dikurung" di dalam lingkungan istana (disebut lingkungan "Kraton") dan hasil batik digunakan untuk pakaian raja dan keluarga beserta pengikutnya.

Pada  tahun 1769, 1784 dan 1790, Keraton Surakarta Sri Sunan (era Sri Susuhunan Paku Buwono III) mengeluarkan sebuah dekrit yang melarang penggunaan batik yang mengandung motif sawat (sayap elang), golok, udan liris, cemukiran untuk orang-orang yang bukan keluarga keraton. Keraton Yogyakarta (Yogyakarta) juga melakukan hal yang sama.

Pada abad ke-18, ditemukan lilin atau "malam" dari sarang lebah. Pada tahun 1850, ditemukan alat batik berupa cetakan yang terbuat dari tembaga yang disebut "cap", batik dengan teknik ini kemudian disebut Batik Cap. Teknik yang dihasilkan menggunakan cap tersebut muncul karena permintaan batik yang kian meningkat tentunya di luar Keraton. Pada tahun inilah, bisnis batik mulai berkembang di Pekalongan. Oleh karena itu banyak pengikut raja yang tinggal di luar istana, kemudian seni batik dibawa oleh para abdi dalem istana dan dibawa ke tempat tinggalnya masing-masing. Setelah sekian lama, akhirnya seni batik ditiru oleh orang-orang terdekat dengan lingkungan istana dan kemudian berkembang menjadi karya seni yang banyak dilakukan oleh kaum perempuan di rumah rumah untuk mengisi waktu luangnya.

Dalam kurun waktu 1942-1945 (masa penjajahan Jepang di Indonesia), seni batik banyak dipengaruhi oleh budaya Jepang dan yang paling populer saat itu yaitu Batik Djawa Hokokai.

Pertengahan 1950, Presiden Soekarno memulai proyek Batik Indonesia. Motif batik ini berubah disesuaikan dengan semangat nasionalisme. Pada tahun yang sama justru penjualan batik tulis dan cap justru menurun karena muncul kain menyerupai batik yang dibuat dengan teknik sablon dan mesin printing.

Pada tahun 1964, atas perintah langsung Presiden Soekarno, Indonesia memamerkan Batik di gerai sewa terbesar di New York World Fair, Amerika Serikat.
Pada tahun 1972, oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin untuk pertama kalinya, batik menjadi pakaian resmi pegawai negeri sipil sebagai upaya mengembalikan kejayaan batik di Indonesia.

Penentuan hari Batik Nasional berasal dari keputusan UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 yang mengakui Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya untuk Kemanusiaan dan Tak Berwujud.

Pada akhirnya, pakaian batik yang dulunya hanya digunakan oleh kalangan keluarga kerajaan dan abdi dalemnya, kini menjadi pakaian rakyat yang populer, baik wanita maupun pria, tua dan muda. Dan pakaian batik tidak hanya digunakan sekedar menghadiri acara resmi seperti pesta pernikahan.

Dan pada tanggal 2 Oktober 2009, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkannya sebagai Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 Oktober 

Semoga Batik Indonesia kembali jaya, sehingga menjadi kontributor bagi perekonomian Indonesia yang jauh lebih baik.
Apa Kabar Industri Batik Indonesia Tahun 2026?

Apa Kabar Industri Batik Indonesia Tahun 2026?

Ulas Batik Indonesia - Saat pandemi covid melanda dunia tak terkecuali Indonesia pada tahun 2020 hingga 2022, secara umum banyak sektor dan sendi sendi ekonomi yang terdampak alias mengalami penurunan baik produksi maupun penjualan.


Paska covid, semua berharap bahwa perekonomian Indonesia segera pulih dan bangkit dari keterpurukan akibat pandemi covid. Namun, harapan itu seperti belum bisa terwujud karena fakta justru sebaliknya, perekonomian semakin merosot bukan meroket seperti yang digadang gadang oleh pemerintah.


Di tengah kondisi di atas, ada berita baik yaitu Indonesia ekspor batik tahun 2023 mencapai angka Rp.283 Milyar dengan negara tujuan Amerika Serikat, Jerman, Singapura, Malaysia dan Kanada.

Hingga menjelang triwulan ke 4 (empat) tahun 2024, hampir semua sektor ekonomi mengalami keterpurukan, lihat saja fakta kondisi saat ini:
1. Daya beli masyarakat yang menurun
2. Banyak PHK di industri manufaktur
3. Deflasi harga barang
4. Judi Online (judol) merajalela
5. Banyak masyarakat yang terjerat hutang pinjol (pinjaman online)

Bagaimana dengan Kondisi Industri Batik Indonesia?

Akibat beberapa fakta kondisi di atas, jelas bahwa Industri batik pun pasti berdampak. Industri batik juga terkait dengan industri tekstil, maupun konveksi. Sudah berapa banyak pabrik tekstil yang melakukan PHK, mengurangi karyawan atau juga mengurangi produksi? Berapa banyak industri konveksi yang berhenti produksi karena tidak ada order atau pesanan?. Bagaimana kondisi sentra sentra batik, seperti Pekalongan, Thamrin City (Jakarta) dan kota kota lain? Lalu, bagaimana dengan penjualan batik itu sendiri di toko toko, gerai mau pun butik yang merupakan salah satu ujung tombak penjualan?

Di luar kondisi di atas, sebenarnya industri batik juga sudah tidak baik baik saja sebelumnya, dan semakin tidak baik akibat kondisi ekonomi saat ini. Apa sih penyebabnya?

Impor produk tekstil dan garmen yang menyerupai batik dari negara China yang dibuat dengan cara cetak mesin print (disebut batik printing). Produk tekstil dan garmen tersebut dijual murah, sehingga menjadi salah satu penyebab turunnya penjualan batik.
 
Semoga tahun 2026 ini membuka harapan kembali akan kejayaan Batik Indonesia. 
Batik dengan Pewarna Alami

Batik dengan Pewarna Alami

Ulas Batik | Batik terbaik adalah batik yang dalam proses pembuatannya menggunakan warna dari bahan bahan alami. Selain ketahanan warnanya lebih lama, bahkan semakin lama warna akan semakin cerah, penggunaan warna dengan bahan bahan alami tidak merusak lingkungan atau dapat dikatakan ramah lingkungan.


Bahan bahan alami yang biasa digunakan sebagai pewarna alami batik antara lain :
  1. Buah tumbuhan mangrove (biasanya buah bakau)
  2. Jelaweh, 
  3. Indigoviera, 
  4. Tengiran 
  5. Kayu soga, jalawe 
  6. Kunyit, secang
  7. Bunga rosela, bunga pagoda 
  8. dan masih banyak lagi
Bahan pewarna alami tersebut menghasilkan batik dengan warna khas, yaitu :
  • Warna biru tua dihasilkan dari daun indigoviera
  • Warna kuning atau oren dihasilkan dari kunyit, kulit buah Jalawe.
  • Warna merah dihasilkan dari bunga rosela, bunga pagoda, kulit kayu Secang, biji Kesumba.
  • Warna Kuning dan Kehijauan dihasilkan dari daun suji, kulit buah jalawe.
  • Coklat dihasilkan dari buah bakau, daun jati. 
Batik dengan metode ecoprint termasuk jenis batik dengan penggunaan warna alami. 
Salah satu contoh Batik yang menggunakan bahan pewarna alami yaitu Batik Gentongan Madura. Disebut Batik Gentongan karena proses pewarnaan batik dilakukan dengan cara direndam di dalam gentong yang terbuat dari tanah liat.