IBX5980432E7F390 Batik Pulau Jawa
Showing posts with label Batik Pulau Jawa. Show all posts
Showing posts with label Batik Pulau Jawa. Show all posts
Batik Garut

Batik Garut

Batik Indonesia | Kabupaten Garut yang masuk ke dalam administrasi provinsi Jawa Barat, wilayahnya merupakan pegunungan hingga mendapat julukan "Swiss van Java". Selain terkenal dengan Dodol nya, domba nya, Garut juga mempunyai hasil kerajinan Batik. Batik Garut merupakan salah satu Batik Priangan.

Sejarah Batik di Garut

Secara detil jejak-jejak sejarah mengenai keberadaan Batik di Garut, tidak terdapat catatan spesifik atas sejarah Batik di Garut seperti asal mula dan perintis atau yang mengenalkan Batik di Garut, tetapi satu hal yang pasti bahwa Batik Garut mulai dikenal sejak tahun 1945 dan dikenal sebagai Batik Tulis Garutan, pernah mengalami kejayaan antara tahun 1967 sampai tahun 1985. Setelah itu seperti daerah-daerah lainnya, Batik Garut pun akhirnya juga mengalami kemunduran karena beberapa sebab, seperti keterbatasan bahan baku, modal serta strategi penjualan dan tentu saja akibat serbuan dari Batik printing ketika itu.

Awalnya, Batik Garutan digunakan oleh sebagian besar masyarakat Garut sebagai kain sinjang (di jawa disebut kain jarik) dan juga digunakan sebagai pakaian untuk kebutuhan sandang.

Dahulu, proses pembuatan Batik Tulis Garutan serupa dan sama dengan proses pembuatan Batik Tulis pada umumnya seperti di Yogyakarta dan Solo, dimana proses pembuatan dan pewarnaan dilakukan secara manual dan menggunakan bahan-bahan alami sehingga untuk dapat menghasilkan satu lembar kain Batik harus membutuhkan waktu paling tidak tiga bulan. Sebuah proses yang panjang namun menghasilkan kain Batik dengan kualitas tinggi yang dapat bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun.

Motif Batik Garutan
Batik Garut motif Sekar Jagad
Batik Garut motif Sekar Jagad

Motif Batik Garutan yang paling khas adalah Batik Garutan Warna Gumading dimana coraknya sangat tegas dengan warna kekuningan yang disebut "Gumading".
Namun seiring perkembangan, Batik Garut kebanyakan hadir dengan ragam hias motif berbentuk geometris dan juga ragam hias motif flora dan fauna. Dari beberapa motif yang ada, seperti penamaan motif, jelas sekali bahwa Batik Garutan mendapatkan pengaruh dari Yogyakarta dan Solo. Terbukti terdapat beberapa motif Batik Garutan seperti Batik Garut Motif Lereng, Batik Garut motif Sekar Jagad, Batik Garut Lereng Adumanis dan lain-lain.
Selain itu, Batik Garutan juga mendapatkan pengaruh dari budaya Arab, budaya Cina, budaya Hindu dan agama Islam.


Kini, ikon-ikon dari Garut seperti Dodol dan Domba, juga dijadikan sebagai ornamen dalam motif Batik Garutan.

Untuk Sentra produksi Batik di Garut, hanya terpusat di kota Garut.
Batik khas Betawi

Batik khas Betawi

Batik Indonesia | Penduduk asli Jakarta dan sekitarnya biasa disebut dengan "orang Betawi" dan budayanya juga disebut dengan "Budaya Betawi". Ikon dari budaya Betawi yang paling terkenal adalah "Ondel-ondel. 

Tetapi sekarang ini jumlah penduduk asli lebih sedikit dibanding dengan jumlah penduduk pendatang, mengingat Jakarta menjadi pusat Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjadi pusat pertemuan berbagai etnis daerah dan suku bangsa.


Ondel-Ondel khas kesenian Betawi
Kota Jakarta, yang pada masa penjajahan Belanda bernama "Batavia", saat itu Batavia, yang merupakan akar budaya Betawi, telah berkembang industri rumah dan bisnis batik, namun para perajin dan pengusaha batik bukanlah penduduk asli atau pribumi melainkan pendatang atau orang-orang perantauan yang berasal dari Pekalongan dan Solo. Kedua kota tersebut sudah dikenal terlebih dahulu sebagai kota penghasil batik. Pengrajin dan pengusaha batik yang berasal dari kota Solo dan Pekalongan ini membuat batik dengan mengangkat tema budaya asli Betawi. Usaha batik yang dilakukan adalah industri rumah tangga yang tersebar di beberapa tempat yaitu Palmerah, Bendungan Hilir (Benhil), Karet Tengsin dan Kebon Kacang - Tanah Abang. Meski motif batik yang diangkat bertema dari budaya Betawi, namun karena pengrajin dan pengusaha berasal dari kota Solo dan Pekalongan, maka motif batik yang dihasilkan sedikit lebih banyak masih dipengaruhi motif dan gaya kedua kota tersebut. Selain itu, pada dasarnya Budaya Betawi juga dipengaruhi oleh beberapa budaya seperti Cina, India dan Arab, sehingga mempengaruhi Batik Betawi yang memiliki warna lebih cerah.
Ini terbukti dengan hadirnya motif batik khas Betawi saat itu (yang sekarang disebut dengan motif klasik Betawi) seperti : 
  • motif gambar Burung Hong 
  • motif gambar pohon dan buah noni (mengkudu) 
  • motif "Tumpal", yang merupakan gambar geometris segitiga 
  • motif pucuk rebung 
Motif Pucuk Rebung merupakan motif paling populer dari Batik khas Betawi, motif ini menjadi seragam atau pakaian wajib bagi peserta pemilihan Abang dan None Jakarta sejak tahun 1970 an. 


Motif Tumpal yang merupakan gambar geometis segitiga yang memagari bagian kepala kain dan badan kain. Segitiga geometris akan mudah kita jumpai pada rumah-rumah bergaya Betawi, seperti di daerah Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
gambar geometis segitiga yang memagari bagian kepala kain dan badan kain. Segitiga geometris akan mudah kita jumpai pada rumah-rumah bergaya Betawi, seperti di daerah Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Meski pengrajin dan pengusaha batik ini berasal dari dua kota yang sebelumnya terkenal dengan batik, namun batik tersebut tidak mampu mengangkat popularitas Batik khas Betawi dan pada akhirnya batik khas betawi tenggelam, jauh kalah populer dibanding batik dari Solo, Pekalongan, Yogyakarta dan Cirebon.  
Saat ini, dengan diakuinya batik Indonesia oleh UNESCO pada 2 Oktober tahun 2009 dimana batik menjadi lebih populer, membawa pengaruh positif bagi perkembangan batik Indonesia khususnya Batik Betawi yang mulai bangkit kembali. Ini ditandai dengan adanya Kampung Batik Betawi yaitu sejak tahun 2012, di bagian selatan Jakarta, berdiri sebuah kampung batik bernama Kampung Batik Betawi Terogong yang diprakarsai oleh seorang wanita bernama Siti Laela yang merupakan keturunan Betawi. Hal yang mendorong Siti Laela mendirikan Kampung Batik Betawi Terogong antara lain: keinginan untuk melestarikan dan mempopulerkan kembali Batik Betawi.  
Selain Kampung Terogong, terdapat satu kampung lagi sebagai kampung batik betawi yaitu di daerah Palbatu, Jakarta Selatan dan dikenal sebagai Kampung Batik Palbatu.
Karena hasil produksi kedua kampung batik yang ada di Jakarta tersebut tidak banyak seperti kampung batik daerah lain, maka Batik khas Betawi yang ada di pasaran adalah batik Betawi yang diproduksi di daerah Cirebon. Motif batik khas Betawi ini dapat dikatakan sebagai motif Batik Betawi modern meliputi yaitu motif yang mengambil ikon dan landmark kota Jakarta :
gambar ondel-ondel motif. Ondel ondel adalah boneka besar khas Betawi gambar motif alat musik dari seni betawi yang diberi nama "Tanjidor" gambar seperti Monumen Nasional (Monas) atau Patung Pancoran. 

Demikian sedikit gambaran dan cerita mengenai Batik Betawi.

Batik Ciamis

Batik Ciamis

Batik Indonesia | Ciamis, adalah nama kota dan kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat yang  berbatasan langsung dengan kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Sejarah Ciamis tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Galuh dan kerajinan membatik sudah ada di Ciamis sejak masa Kerajaan Galuh ini.
Batik Ciamis termasuk dalam kelompok Batik Priangan bersama dengan daerah Garut, Tasikmalaya, dan Bandung. Dalam skala yang lebih luas disebut bagian dari Batik Tatar Sunda yang dalam hal ini termasuk daerah Cirebon dan Indramayu (walaupun kedua daerah ini terdapat unsur jawa yang besar).
Walaupun mempunyai teknik membatik sendiri yang disebut "teknik batik Sarian", Batik Ciamis  yang dikenal dengan nama Batik Ciamisan banyak dipengaruhi dari daerah lain seperti Cirebon, Indramayu, Tasikmalaya, Garut bahkan Solo dan Yogyakarta. Pengaruh dari Solo dan Yogyakarta kemungkinan terjadi karena menurut cerita, pada saat Pasukan Diponegoro berangkat berperang menuju Batavia (Jakarta) untuk melawan penjajah kolonial Belanda, dalam perjalanan Pasukan Diponegoro tersebut juga melewati wilayah Ciamis. Kemungkinan ada anggota pasukan yang singggah dan kemudian menetap di Ciamis dan membawa budaya batik ke Ciamis.

Tahun 1960 hingga awal tahun 1980 adalah era kejayaan Batik Ciamis. Pada masa itu, Batik Ciamis dapat bersaing dengan batik batik produksi dari Solo, Yogya dan Pekalongan yang memang sudah tersohor dengan batiknya.

Faktor perubahan ekonomi makro yang tidak menguntungkan juga berimbas atau berdampak pada para pengrajin batik di Ciamis, ditambah faktor bencana lam letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982 menyebabkan turunnya eksistensi Batik Ciamis. Akibat letusan Gunung Galunggung tersebut cukup dahsyat karena debu abu vulkaniknya menutupi selama setahun, akibatnya para pengrajin batik tidak dapat melakukan produksi batik karena kendala proses pengeringan yang mengandalkan sinar matahari.
Pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan budaya Indonesia, memberikan dampak positif terhadap perkembangan batik Ciamis. Para pengrajin Batik Ciamis (Sentra produksi di Dusun Ciwahangan dan Desa Imbanagara) kembali bersemangat untuk mengangkat dan membangkitkan kembali Batik Ciamis yang sempat terpuruk.

Batik Ciamis memliki karakter serta corak batik yang berbeda dari daerah tetangganya yaitu Tasikmalaya dan Garut. Warna Batik Ciamis juga lebih kental. Selain dipengaruhi gaya batik pesisir seperti dari Indramayu dan Cirebon, Batik Ciamis juga dipengaruhi gaya Batik dari Solo dan Yogyakarta yang kemudian berpadu dengan budaya Sunda serta kehidupan masyarakat Ciamis dengan ke-sunda-annya menghasilkan Motif-motif Batik Ciamisan seperti :
  1. Galuh Pakuan
  2. Batu Hiu
  3. Rereng Lasem
  4. Parang Sontak
  5. Rereng Seno
  6. Rereng Sintung Ageung
  7. Rereng Parang Rusak
  8. Kumeli
  9. Kopi Pecah
  10. Ciung Wanara
  11. Daun Kelapa
  12. Tanaman Rente
Dari beberapa motif Batik Ciamisan di atas, membuktikan bahwa memang ada pengaruh dari daerah lain karena di Ciamis pun terdapat motif Batik Rereng Parang Rusak.
Rereng dalam bahasa Sunda berarti adalah Lereng atau Parang, ini merupakan adaptasi dari Batik Solo dan Yogyakarta.
Walaupun seni membatik di Ciamis telah ada semenjak jaman Kerajaan Galuh, namun motif-motif Batik yang tercipta kebanyakan tidak mengandung filosofi, perlambang atau nilai sakral khusus dan juga tidak menunjukkan status sosial tertentu sebagaimana awal-awal motif Batik Solo dan Yogyakarta dahulu.

Demikian sedikit gambaran dan cerita mengenai Batik dari Ciamis.

Batik Solo, Salah Satu Pelopor Batik di Indonesia

Batik Solo, Salah Satu Pelopor Batik di Indonesia

Ulas Batik Indonesia | Tidak ada yang tidak mengenal Solo ketika membicarakan Batik dan membicarakan Batik tidak lengkap tanpa membahas Batik Solo, karena sejarah Batik di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Batik di Solo, dimana Solo merupakan salah satu pelopor bagi lahirnya Batik di Indonesia. Sejarah Batik Solo dan sejarah Batik Yogyakarta ibarat pinang dibelah dua, karena mempunyai latar belakang sejarah yang sama yaitu sama-sama dari kesultanan Mataram. Maka tidak mengherankan bila nama-nama motif Batik Solo dan Yogyakarta mempunyai kesamaaan nama motif dan coraknya.

Batik Solo dan Yogyakarta dapat disebut sebagai batik pedalaman dan Batik Keratonan. Solo dan Yogyakarta mempunyai "Pakem" sendiri dalam membuat Batik, dimana dari setiap Batik dengan motif yang dihasilkan mempunyai makna tersediri dan penggunaannya pada masa lalu juga sesuai dengan motif dari Batik yang diciptakan.

Batik asli Solo mempunyai beberapa motif yang telah dikenal secara luas, yaitu antara lain :
  • motif Kawung
  • motif Parang
  • motif Sekar Jagad
  • motif Barong
  • motif Sidomukti
  • motif Sidoluruh
  • motif Truntum
  • motif Sawat 
Banyak Butik batik yang bertebaran di kota Solo, namun ada pasar yang terkenal di Solo, yang sebagian besar toko atau kiosnya menjual berbagai jenis Batik yaitu pasar yang dikenal dengan nama Pasar Klewer.

Ada juga sentra pembuatan Batik di Solo yang disebut Kampung Batik. Terdapat dua kampung Batik ternama di Kota Solo, yaitu Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman. Kedua sentra batik tersebut memiliki perbedaan dari sisi Batik yang dihasilkan yaitu pada pola dan warna batiknya.

Motif batik Kampung Laweyan memiliki jumlah ratusan yang telah lebih dulu dikenal dan menggunakan warna yang lebih terang. Sementara itu, Kampung Batik Kauman sendiri cenderung gelap seperti coklat tua dan motif yang dibuat sudah relatif modern.

Batik khas Kuningan

Batik khas Kuningan

Ulas Batik Indonesia | Kuningan, adalah nama kabupaten sekaligus ibukota kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Barat. Kota yang terkenal dengan "peyeum ketan" nya ini ternyata juga mempunyai kerajinan batik namun belum banyak masyarakat yang tahu mengenai keberadaan Batik Kuningan, karena memang batik Kuningan belum sepopuler batik batik dari daerah lain.

Nama Kuningan diambil dari nama Kerajaan Kuningan yang berdiri pada masa Hindu hingga masuknya Islam. Masuknya Islam ke Kerajaan Kuningan tidak terlepas dari pengaruh Kesultanan Cirebon yang dibawa oleh Syeh Syarif Hidayatullah. Kuningan juga sudah dikenal sejak jaman Perang Kemerdekaan Indonesia, yaitu sebagai tempat Perjanjian Linggar Jati antara Belanda dengan Indonesia.

Batik Kuningan dikenal juga dengan nama Batik Paseban. Kata "Paseban" diambil dari nama Gedung Cagar Budaya Nasional yaitu Paseban Tri Panca Tunggal yang berada di desa Cigugur. Gedung yang berdiri sejak tahun 1840 tersebut memiliki relief dan ukiran klasik yang khas. Nama Batik Paseban digagas oleh seorang tokoh keturunan bangsawan bernama Pangeran Djatikusumah pada tahun 2004, dengan tujuan mengangkat kembali Batik Paseban tersebut yang dianggap sudah punah. Kerajinan Batik Paseban, lebih terpusat di Desa Cigugur dibanding desa lain seperti Desa Cikubangsari, sehingga Desa Cigugur dijadikan sebagai Sentra Batik nya Paseban sejak tahun 2006.

Dari uraian singkat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Kuningan tidak mempunyai sejarah panjang mengenai Batik sebagaimana daerah daerah seperti Cirebon, Yogyakarta, Solo atau Pekalongan, bahkan dengan daerah lain di Jawa Barat seperti Ciamis, Tasikmalaya dan Garut yang punya sejarah sendiri dalam perbatikan, itulah mengapa daerah-daerah yang tidak mempunyai latar belakang sejarah batik, kemudian mengembangkan batik dengan motif mengangkat ikon atau simbol daerahnya masing-masing, batiknya sering disebut sebagai "Batik khas" seperti Batik khas Depok, Jakarta, dan lain-lain.

Keragaman budaya, sejarah (gedung naskah perundingan Linggar Jati),  kekayaan alam (Gunung Ciremai) dan ciri khas kuningan seperti kuda Kuningan, Ikan Dewa (Kancra Bodas) juga dijadikan sebagai motif khas batik Kuningan.
Selain motif-motif tersebut, Motif Batik Paseban lainnya yaitu :
1. Motif Sekar Galuh
2. Mayang Segara
3. Adu Manis
4. Rereng Pwah Aci
5. Rereng Kujang
6. Geger Sunten
7. Oyod Mingmang

Demikian sekilas tentang Batik khas Kuningan, semoga bermanfaat.


Batik khas Depok

Batik khas Depok

Ulas Batik Indonesia | Depok punya batik? Depok yang di Yogyakarta atau Depok yang ada Kampus Universitas Indonesia?
Kalau Depok yang di Yogyakarta sih tidak aneh karena memang Yogyakarta sudah sangat terkenal dengan batik-nya. Nah kalau Depok yang terletak di pinggir Jakarta dan ada kampus Universitas Indonesia itu sekarang ada batik, apa iya?
Ya, benar, sekarang sudah ada yang namanya Batik khas Depok.


Dalam sejarahnya, memang Depok tidak mempunyai jejak-jejak sejarah masa lalu yang berkaitan dengan Batik dalam hal ini kerajinan pembuatan batik. Namun sejak tahun 2007, Pemerintah Kota Depok (Pemkot Depok) melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Depok mulai merintis batik di Depok, salah satunya dengan cara mengadakan Lomba Desain Batik khas Depok. Dan semenjak Batik Indonesia memperoleh pengakuan dunia melalui UNESCO pada tahun 2009, Kota Depok pun semakin terdorong untuk ikut memajukan batik sekaligus mengangkat ekonomi daerah. 

Motif Batik
Berbeda dengan daerah daerah yang lebih dahulu memang terkenal dengan batiknya seperti Solo, Yogyakarta, Cirebon dan Pekalongan yang motifnya yang begitu kaya dan sangat beragam, motif yang diangkat ke dalam batik khas Depok adalah ikon-ikon atau simbol-simbol khas kota Depok seperti Buah Belimbing Dewi, Gong Bolong, Jembatan Panus, Logo Kota Depok, jalan Margonda, ikan Memphis / Manfish (ikan hias yang pernah sangat populer di Depok). Dimana di Depok memang terdapat Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Air Tawar yang terletak di daerah Cagar Alam Kecamatan Pancoran Mas. Bisa jadi ikan Memphis / Manfish ini adalah hasil pengembangan Balai tersebut) lalu ad simbol program ODNR / One Day No Rice (yaitu program sehari tanpa nasi) alias sehari tidak makan nasi yang diganti dengan makanan lain seperti jagung, singkong dan lain-lain. Program ini dilaksanakan setiap hari Selasa setiap minggunya. Program ini berjalan pada saat kepemimpinan Nur Mahmudi Ismail menjabat Walikota Depok).
Popularitas
Tidaklah sepadan bila membandingkan popularitas batik Depok dengan batik dari Solo, Yogya atau Pekalongan. Sangatlah wajar bila Batik khas Depok belum banyak dikenal, jangankan warga di luar Depok, warga Depok mungkin sebagian besar masih belum mengetahui keberadaan Batik khas Depok ini, mengingat Depok tidak mempunyai sejarah Batik dan baru mulai dikembangkan, usia kota Depok juga masih muda yaitu baru berusia 16 tahun (pada tahun 2017) setelah lepas dari Kabupaten Bogor. 

Namun sampai saat tulisan ini diturunkan, Batik khas Depok ini belum banyak diproduksi massal mengingat memang Depok tidak punya sejarah Batik dan dapat dikatakan baru menggeliat. Selain keterbatasan lahan untuk produksi, ketersediaan pengrajin batik di Depok dapat dikatakan masih sedikit. Oleh karena itu, informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa banyak Batik-batik khas Depok sebagian besar masih diproduksi di Pekalongan, Jawa Tengah.
Hal itu semua tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kota untuk tetap berupaya keras memajukan Batik Khas Depok sekaligus mengangkat perekonomian Daerah.

Maju terus Batik khas Depok, agar Batik tetap lestari dan memajukan perekonomian daerah.